Cara Alami Mengeluarkan Batu Empedu


Die Journale

Sekitar akhir 2013 saya merasakan sakit yang aneh diwilayah perut bagian atas, saya berpikir itu sakit mag. Baca-baca di internet katanya ada sakit mag kronis alias yang tidak sembuh setelah bertahun-tahun, well…saya memang punya sakit mag dan bisa dikatakan kronis tapi sakit yang dirasakan agak berbeda dibandingkan sakit mag biasa. Rasanya perut kembung terus, dan ketika habis makan terasa sakit sekali bukan hanya dibagian perut atas tapi hingga ke bagian punggung dibelakang. Kalau sakit mag karena sudah mengalami sejak SMP dulu saya cukup hafal dan mengenali yang pasti tidak seperti ini sakitnya.

Dibawa ke dokter sempat juga dicek dengan USG kemungkinan adanya batu empedu, namun setelah di USG saat itu somehow hasilnya ‘normal’. Dokter bilang harus dilakukan endoscopy untuk melihat kondisi perut terutama karena saya mengaku sudah lama menderita sakit mag kambuhan alias klo telat makan atau salah makan mag-nya kambuh. Saya pikir nanti-nati sajalah kalau endoscopy (padahal takut hehehe)…

Lihat pos aslinya 1.209 kata lagi

Alat Baru Pelindung HIV dan Kehamilan


Alat Baru Pelindung HIV dan Kehamilan

Sebuah cincin intravaginal yang secara perlahan mengeluarkan obat antiretroviral dan kontrasepsi memiliki potensi untuk melindungi perempuan dari HIV, herpes dan kehamilan yang tidak diinginkan.

Cincin itu dirancang untuk tetap pada tempatnya selama tiga bulan, mengeluarkan dosis obat terkontrol, yang sudah digunakan sebagai kontrasepsi dan pencegahan infeksi HIV. Dengan menggantikan pil-pil dosis tinggi yang harus dikonsumsi setiap hari, para peneliti berharap alat itu akan meningkatkan kepatuhan terhadap rejimen obat.

Cincin intravaginal itu dikembangkan selama lima tahun di Northwestern University oleh insinyur biomedis Patrick Kiser dan kolega-koleganya. Menulis di jurnal PLOS ONE, Kiser mengatakan timnya berharap perempuan akan menggunakan cincin itu terutama untuk kontrasepsi, namun mereka juga akan mendapat manfaat dari perlindungan terhadap infeksi-infeksi menular seksual.

Alat yang mudah digunakan ini sedang diproduksi saat ini dan akan segera diuji coba pada perempuan.

#VOA

Penanganan Cedera Kepala


Pendahuluan

Cedera kepala akibat trauma sering kita jumpai di lapangan. Distribusi kasus cedera kepala terutama melibatkan kelompok usia produktif antara 15–44 tahun dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Penyebab cedera kepala terbanyak adalah akibat kecelakaan lalu lintas, disusul dengan jatuh (terutama pada anak-anak). Cedera kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh kematian akibat trauma. Karena itu, sudah saatnya seluruh fasilitas kesehatan yang ada, khususnya puskesmas sebagai lini terdepan pelayanan kesehatan, dapat melakukan penanganan yang optimal bagi penderita cedera kepala. Seperti negara-negara berkembang lainnya, kita tidak dapat memungkiri bahwa masih terdapat banyak keterbatasan, di antaranya keterbatasan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan, keterbatasan alat-alat medis, serta kurangnya dukungan sistem transportasi dan komunikasi. Hal ini memang merupakan tantangan bagi kita dalam menangani pasien dengan trauma, khususnya trauma kepala.

Setiap petugas kesehatan diharapkan mempunyai pengetahuan dan keterampilan praktis untuk melakukan penanganan pertama dan tindakan live saving sebelum melakukan rujukan ke rumah sakit. Diharapkan dengan penanganan yang cepat dan akurat dapat menekan morbiditas dan mortalitasnya. Penanganan yang tidak optimal dan terlambatnya rujukan dapat menyebabkan keadaan penderita semakin memburuk dan berkurangnya kemungkinan pemulihan fungsi.

Klasifikasi Cedera Kepala

Cedera kepala bisa diklasifikasikan dalam berbagai aspek, tetapi untuk kepentingan praktis di lapangan dapat digunakan klasifikasi berdasarkan beratnya cedera. Penilaian derajat beratnya cedera kepala dapat dilakukan menggunakan Glasgow Coma Scale, yaitu suatu skala untuk menilai secara kuantitatif tingkat kesadaran seseorang dan kelainan neurologis yang terjadi. Ada tiga aspek yang dinilai, yaitu reaksi membuka mata (eye opening), reaksi berbicara (verbal respons), dan reaksi gerakan lengan serta tungkai (motor respons).

Dengan Glasgow Coma Scale (GCS), cedera kepala dapat diklasifikasikan menjadi:

  • Cedera kepala ringan, bila GCS 13 – 15
  • Cedera kepala sedang, bila GCS 9 – 12
  • Cedera kepala berat, bila GCS 3 – 8

Glasgow Coma Scale

  1. Reaksi membuka mata
    4 Buka mata spontan
    3 Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara
    2 Buka mata bila dirangsang nyeri
    1 Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun
  2. Reaksi berbicara
    5 Komunikasi verbal baik, jawaban tepat
    4 Bingung, disorientasi waktu, tempat, dan orang
    3 Dengan rangsangan, reaksi hanya kata, tak berbentuk kalimat
    2 Dengan rangsangan, reaksi hanya suara, tak terbentuk kata
    1 Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun
  3. III.Reaksi gerakan lengan/tungkai
    6 Mengikuti perintah
    5 Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui tempat rangsangan
    4 Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan
    3 Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal
    2 Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal
    1 Dengan rangsangan nyeri, tidak ada reaksi

Penderita yang sadar baik (composmentis) dengan reaksi membuka mata spontan, mematuhi perintah, dan berorientasi baik, mempunyai nilai GCS total sebesar 15. Sedang pada keadaan koma yang dalam, dengan keseluruhan otot-otot ekstremitas flaksid dan tidak ada respons membuka mata sama sekali, nilai GCS-nya adalah 3.

Patofisiologi

Berdasarkan patofisiologinya, ada dua macam cedera otak, yaitu cedera otak primer dan cedera otak sekunder. Cedera otak primer adalah cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan kejadian trauma, dan merupakan suatu fenomena mekanik. Umumnya menimbulkan lesi permanen. Tidak banyak yang bisa kita lakukan kecuali membuat fungsi stabil, sehingga sel-sel yang sedang sakit bisa mengalami proses penyembuhan yang optimal. Sedangkan cedera otak sekunder merupakan hasil dari proses yang berkelanjutan (on going process) sesudah atau berkaitan dengan cedera primer dan lebih merupakan fenomena metabolik.

Proses berkelanjutan tersebut sebenarnya merupakan proses alamiah. Tetapi, bila ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi dan tidak ada upaya untuk mencegah atau menghentikan proses tersebut maka cedera akan terus berkembang dan berakhir pada kematian jaringan yang cukup luas. Pada tingkat organ, ini akan berakhir dengan kematian/kegagalan organ. Cedera otak sekunder disebabkan oleh keadaan-keadaan yang merupakan beban metabolik tambahan pada jaringan otak yang sudah mengalami cedera (neuron-neuron yang belum mati tetapi mengalami cedera). Beban ekstra ini bisa karena penyebab sistemik maupun intrakranial. Berbeda dengan cedera otak primer, banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya cedera otak sekunder.

Penyebab cedera otak sekunder di antaranya :

  1. Penyebab sistemik: hipotensi, hipoksemia, hipo/hiperkapnea, hipertermia, dan hiponatremia.
  2. Penyebab intrakranial: tekanan intrakranial meningkat, hematoma, edema, pergeseran otak (brain shift), vasospasme, kejang, dan infeksi.

Mencegah, mendeteksi, dan melakukan penanganan dini terhadap kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder adalah hal yang penting dan utama dilaksanakan

Penanganan

Penanganan awal cedera kepala pada dasarnya mempunyai tujuan :

1. Memantau sedini mungkin dan mencegah cedera otak sekunder.

2. Memperbaiki keadaan umum seoptimal mungkin sehingga dapat membantu penyembuhan sel-sel otak yang sakit.

Penanganan dimulai sejak di tempat kejadian secara cepat, tepat, dan aman. Pendekatan ‘tunggu dulu’ pada penderita cedera kepala sangat berbahaya, karena diagnosis dan penanganan yang cepat sangatlah penting. Cedera otak sering diperburuk oleh akibat cedera otak sekunder. Penderita cedera kepala dengan hipotensi mempunyai mortalitas dua kali lebih banyak daripada tanpa hipotensi. Adanya hipoksia dan hipotensi akan menyebabkan mortalitas mencapai 75 persen. Oleh karena itu, tindakan awal berupa stabilisasi kardiopulmoner harus dilaksanakan secepatnya1.

Faktor-faktor yang memperjelek prognosis :

(1) Terlambat penanganan awal/resusitasi;

(2) Pengangkutan/transport yang tidak adekuat;

(3) Dikirim ke RS yang tidak adekuat;

(4) Terlambat dilakukan tindakan bedah;

(5) Disertai cedera multipel yang lain.

Penanganan di Tempat Kejadian

Dua puluh persen penderita cedera kepala mati karena kurang perawatan sebelum sampai di rumah sakit. Penyebab kematian yang tersering adalah syok, hipoksemia, dan hiperkarbia. Dengan demikian, prinsip penanganan ABC (airway, breathing, dan circulation) dengan tidak melakukan manipulasi yang berlebihan dapat memberatkan cedera tubuh yang lain, seperti leher, tulang punggung, dada, dan pelvis.

Umumnya, pada menit-menit pertama penderita mengalami semacam brain shock selama beberapa detik sampai beberapa menit. Ini ditandai dengan refleks yang sangat lemah, sangat pucat, napas lambat dan dangkal, nadi lemah, serta otot-otot flaksid bahkan kadang-kadang pupil midriasis. Keadaan ini sering disalahtafsirkan bahwa penderita sudah mati, tetapi dalam waktu singkat tampak lagi fungsi-fungsi vitalnya. Saat seperti ini sudah cukup menyebabkan terjadinya hipoksemia, sehingga perlu segera bantuan pernapasan.

Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas ( airway). Jika penderita dapat berbicara maka jalan napas kemungkinan besar dalam keadaan adekuat. Obstruksi jalan napas sering terjadi pada penderita yang tidak sadar, yang dapat disebabkan oleh benda asing, muntahan, jatuhnya pangkal lidah, atau akibat fraktur tulang wajah. Usaha untuk membebaskan jalan napas harus melindungi vertebra servikalis (cervical spine control), yaitu tidak boleh melakukan ekstensi, fleksi, atau rotasi yang berlebihan dari leher. Dalam hal ini, kita dapat melakukan chin lift atau jaw thrust sambil merasakan hembusan napas yang keluar melalui hidung. Bila ada sumbatan maka dapat dihilangkan dengan cara membersihkan dengan jari atau suction jika tersedia. Untuk menjaga patensi jalan napas selanjutnya dilakukan pemasangan pipa orofaring. Bila hembusan napas tidak adekuat, perlu bantuan napas. Bantuan napas dari mulut ke mulut akan sangat bermanfaat (breathing). Apabila tersedia, O2 dapat diberikan dalam jumlah yang memadai. Pada penderita dengan cedera kepala berat atau jika penguasaan jalan napas belum dapat memberikan oksigenasi yang adekuat, bila memungkinkan sebaiknya dilakukan intubasi endotrakheal.

Status sirkulasi dapat dinilai secara cepat dengan memeriksa tingkat kesadaran dan denyut nadi (circulation). Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah mencari ada tidaknya perdarahan eksternal, menilai warna serta temperatur kulit, dan mengukur tekanan darah. Denyut nadi perifer yang teratur, penuh, dan lambat biasanya menunjukkan status sirkulasi yang relatif normovolemik. Pada penderita dengan cedera kepala, tekanan darah sistolik sebaiknya dipertahankan di atas 100 mmHg untuk mempertahankan perfusi ke otak yang adekuat. Denyut nadi dapat digunakan secara kasar untuk memperkirakan tekanan sistolik. Bila denyut arteri radialis dapat teraba maka tekanan sistolik lebih dari 90 mmHg. Bila denyut arteri femoralis yang dapat teraba maka tekanan sistolik lebih dari 70 mmHg. Sedangkan bila denyut nadi hanya teraba pada arteri karotis maka tekanan sistolik hanya berkisar 50 mmHg. Bila ada perdarahan eksterna, segera hentikan dengan penekanan pada luka. Cairan resusitasi yang dipakai adalah Ringer Laktat atau NaCl 0,9%, sebaiknya dengan dua jalur intra vena. Pemberian cairan jangan ragu-ragu, karena cedera sekunder akibat hipotensi lebih berbahaya terhadap cedera otak dibandingkan keadaan edema otak akibat pemberian cairan yang berlebihan. Posisi tidur yang baik adalah kepala dalam posisi datar, cegah head down (kepala lebih rendah dari leher) karena dapat menyebabkan bendungan vena di kepala dan menaikkan tekanan intrakranial.

Setelah ABC stabil, segera siapkan transport ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.

Rujukan

Sesuai dengan keadaan masing-masing daerah yang sangat bervariasi, pemilihan alat transportasi tergantung adanya fasilitas, keamanan, keadaan geografis, dan cepatnya mencapai rumah sakit rujukan yang ditentukan. Prinsipnya adalah ‘To get 0a definitif care in shortest time’. Dengan demikian, bila memungkinkan sebaiknya semua penderita dengan trauma kepala dirujuk ke rumah sakit yang ada fasilitas CT Scan dan tindakan bedah saraf. Tetapi, melihat situasi dan kondisi di negara kita, di mana hanya di rumah sakit propinsi yang mempunyai fasilitas tersebut (khususnya di luar jawa), maka sistem rujukan seperti itu sulit dilaksanakan. Oleh karena itu, ada tiga hal yang harus dilakukan:

  1. Bila mudah dijangkau dan tanpa memperberat kondisi penderita, sebaiknya langsung dirujuk ke rumah sakit yang ada fasilitas bedah saraf (rumah sakit propinsi).
  2. Bila tidak memungkinkan, sebaiknya dirujuk ke rumah sakit terdekat yang ada fasilitas bedah.
  3. Bila status ABC belum stabil, bisa dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih baik.

Selama dalam perjalanan, bisa terjadi berbagai keadaan seperti syok, kejang, apnea, obstruksi napas, dan gelisah. Dengan demikian, saat dalam perjalanan, keadaan ABC pasien harus tetap dimonitor dan diawasi ketat. Dengan adanya risiko selama transportasi, maka perlu persiapan dan persyaratan dalam transportasi, yaitu disertai tenaga medis, minimal perawat yang mampu menangani ABC, serta alat dan obat gawat darurat (di antaranya ambubag, orofaring dan nasofaring tube, suction, oksigen, cairan infus RL atau NaCl 0,9%, infus set, spuit 5 cc, aquabidest 25 cc, diazepam ampul, dan khlorpromazine ampul). Selain itu, juga surat rujukan yang lengkap dan jelas.

Tetapi, sering pertimbangan sosial, geografis, dan biaya menyulitkan kita untuk merujuk penderita, sehingga perlu adanya pegangan bagi kita untuk menentukan keputusan yang terbaik bagi pasien. Ada beberapa kriteria pasien cedera kepala yang masih bisa dirawat di rumah tetapi dengan observasi ketat, yaitu :

  1. Orientasi waktu dan tempat masih baik
  2. Tidak ada gejala fokal neurologis.
  3. Tidak sakit kepala ataupun muntah-muntah.
  4. Tidak ada fraktur tulang kepala.
  5. Ada yang bisa mengawasi dengan baik di rumah.
  6. Tempat tinggal tidak jauh dari puskesmas/pustu.

Selain itu, perlu diberi penjelasan kepada keluarga untuk mengawasi secara aktif (menanyakan dan membangunkan penderita) setiap dua jam. Bila dijumpai nyeri kepala bertambah berat, muntah makin sering, kejang, kesadaran menurun, dan adanya kelumpuhan maka segera lapor ke puskesmas atau petugas medis terdekat.

Penutup

Penanganan awal cedera kepala sangat penting karena dapat mencegah terjadinya cedera otak sekunder sehingga dapat menekan morbiditas dan mortalitasnya. Dua hal penting dalam penanganan awal ini adalah penanganan segera di tempat kejadian dan proses transportasi saat merujuk ke fasilitas yang lebih tinggi. Tujuan dari penanganan cedera kepala bukan lagi sekadar menolong jiw,a tetapi menyembuhkan penderita dengan sequele yang seminimal mungkin. Petugas medis di puskesmas sebagai ujung tombak penyedia pelayanan kesehatan terdepan, memiliki tanggung jawab yang penting untuk melakukan penanganan awal seoptimal mungkin dan mempersiapkan rujukan penderita ke tingkat fasilitas yang lebih tinggi.

Daftar Pustaka

  1. American College of Surgeon. Advanced Trauma Life Support for Doctors. American College of Surgeon, 1997 : 195-227.
  2. Listiono LD, ed. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara. (ed.III). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1998 : 147-176.
  3. Bajamal AH. Penatalaksanaan cidera otak karena trauma. In : Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Bedah Saraf. 1999.
  4. Darmadipura MS. Cedera otak primer dan cedera otak sekunder tinjauan mekanisme dan patofisiologis. In: Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Bedah Saraf. 2000.
  5. Bajamal AH. Perawatan cidera kepala pra dan intra rumah sakit. In : Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Bedah Saraf. 2000.
  6. Hafid A, Kasan U, Darmadipura HMS, Wirjowijoyo B. Strategi dasar penanganan cidera otak. Warta IKABI Cabang Surabaya. 1989 : 107-128.
  7. Wilberger JE. Emergency care and initial evaluation. In: Cooper PR, ed. Head Injury. Baltimore: Williams and Wilkins, 1993:27-41.
  8. Kisworo B. Penanganan patah tulang terbuka di puskesmas. Medika 1996;10: 802-804.
  9. McKhann II GM, Copass MK, Winn HR. Prehospital care of the head-injured patient. In: Narayan RK, Wilberger JE, Povlishock JT, eds. Neurotrauma. McGraw-Hill, 1996: 103-117.
  10. Andrews BT. Fluid and electrolite management in the head injured patient. In: Narayan RK, Wilberger JE, Povlishock JT, eds. Neurotrauma. McGraw-Hill, 1996: 331-344.

6 Tingkat Kesadaran


Tingkat Kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :

  1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.
  2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
  3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
  4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
  5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
  6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.

Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Penyebab Penurunan Kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis;

pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi.

Mengukur Tingkat Kesadaran

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cedera kepala. Refleks membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran

dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cedera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive).

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

Lama Tak Tersentuh….


Selasa, 3 Juli 2012 jam 13.22 wita,….

Sebenarnya… saat ini lagi bingung ngerjain hasil penelitian yang mesti diolah dengan menggunakan SPSS. Softwarenya ada koq… cuman cara menggunakannya yang ra mudeng… Sambil online nyari-nyari tutor eh…. malah bingung liatnya.🙂😛 dasar otak udang kali yah… tapi meski otak udang … isi kepala inilah yang membuat aku sampai pada saat sekarang ini. Salut pada otak udangku..😀 (y)😛. Mesti Learning by doing neh… heehehehehe… Adakah kira-kira teman ato rekan2 yang bisa bantu ato minimal ngasih tau tutor yang paling simpel yang kira-kira orang bodoh pun bisa tahu menggunakannya…????🙂😀

SEL KULIT BISA JADI SEL HATI


MELBOURNE–bkkbn online: Sejumlah ilmuwan dapat mengubah sel kulit menjadi sel hati, terobosan yang bisa menghapus keharusan untuk transplantasi organ pada masa mendatang.

Satu penelitian yang menggunakan tikus di Institut Shanghai untuk Ilmu Biologi telah berhasil membuat jenis utama sel hati — yang disebut “hepatocyte” — yang berasal dari sel kulit.

Menurut penelitian tersebut, yang diterbitkan di jurnal “Nature” edisi pekan ini, “ketika dicangkokkan ke tikus percobaan dengan luka hati, sel serupa dengan hepatocyte memenuhi hati dan mengembalikan fungsi organ tersebut”.

Seorang pakar liver Australia, Profesor Geoff McCaughen, mengatakan meski sel induk pernah berhasil mencapai transisi tersebut, percobaan itu menunjukkan teknik serupa yang pertama kali berhasil pada sel kulit.

“Mereka tidak berfungsi sepenuhnya seperti sel liver normal, tetapi mereka mungkin 50 persen atau lebih berguna,” kata McCaughen, kepala unit cangkok liver di Rumah Sakit Royal Prince Alfred, Sydney, Australia.

“Gen yang digunakan untuk mengubah dan membuat sel liver … gen tersebut ditempatkan dalam sel kulit dan diciptakan agar berfungsi,” jelasnya.

Liver menciptakan berbagai jenis protein, memproduksi fungsi anti-pembekuan darah, mencerna glukosa, menghilangkan racun dan mempertahankan tingkat gula darah dan energi.

“Anda tidak dapat hidup tanpa sel hati yang penting itu, bernama hepatocyte, tanpa sel itu Anda akan mati — akibat gagal liver,” katanya..

Para peneliti sekarang perlu menguji fungsi dari sel terprogram ulang pada tikus percobaan guna memastikan apakah akan menyebabkan gagal liver.

“Itu merupakan tujuan utamanya bahwa mereka dapat menghentikan gagal liver seutuhnya, dan pasien tidak perlu cangkok hati atau akan meninggal,” katanya.

Sumber : COPAS http://www.bkkbn.go.id/Webs/index.php/berita/detail/2768

Waktu Paling Horny Bagi Pria Buat Ngeseks


SADAR atau tidak, jam biologis suami dan istri berbeda. Kaum adam merasa horny di pagi hari, sementara kaum hawa turn-on di malam hari.

Meskipun pria punya kecenderungan dapat bercinta kapan saja, tapi pagi hari adalah waktu di mana dirinya paling mengidamkan aktivitas seks dibandingkan yang lain. Sementara wanita merasa sangat tidak seksi di pagi hari, mengapa tidak memanfaatkan libido suami yang tinggi untuk mendapatkan kepuasan seks di pagi hari.

“Kebanyakan pria merasa horny saat bangun di pagi hari,” ungkap Arlene Goldman PhD, seorang terapis seks dan penulis buku Psychology Today Here to Help: Secrets of Sexual Ecstasy. Demikian seperti dikutip laman Cosmopolitan.
Salahkan hormon testoteron

Ada sebuah alasan biologis mengapa libido pria tinggi usai tidur malam. “Pagi hari terjadi lonjakan testoteron tertinggi,” sahut Harry Fisch MD, penulis buku “Size Matters”.

“Dan testoteronlah yang menggiring perasaan seksual pada pria, itulah mengapa begitu bangun di pagi hari Mr P dapat terlihat menjulang di balik boxernya,” tambahnya.

Istri harus memahami dan ikut menikmati

Bangun di pagi hari, saat rambut masih terlihat seperti rambut singa dan rasa kantuk masih terasa mungkin kalimat bercinta jauh dari pikiran istri. Tapi ketahuilah, pagi hari adalah kesempatan istri merasakan kenikmatan bercinta, akibat energi dan libido suami yang tinggi.

“Testoteron yang tinggi memungkinkan pria memiliki lebih banyak energi untuk bercinta. Energi itu juga yang membantunya tahan lebih lama. Kuncinya adalah menghilangkan perasaan tidak seksi dan bangun ‘mood’ bercinta pada diri istri untuk menikmati aktivitas seks yang menggoda,” jelas Dr Arlene.

Variasi seks ideal di pagi hari; spooning

Suami mungkin saja punya banyak energi, tapi tidak dengan istri. Maka variasi bercinta yang paling ideal mengenai G-spot istri adalah posisi menyendok.

“Kebanyakan pasutri tidur dengan posisi ini, sehingga suami dapat dengan mudah meraih tubuh, meremas payudara dan merangsang klitoris istri,” papar Trina Read, konsultan seks dan penulis buku Till Sex Do Us Part.

Sumber COPAS : http://lifestyle.okezone.com/read/2011/03/23/197/438017/ngeseks-pagi-waktu-pria-paling-horny